Selasa, Juli 06, 2010

LAPORAN PENDAHULUAN PADA SISTEM PERKEMIHAN BERHUBUNGAN DENGAN : OBSTRUKSI RENAL KALKULUS ( BATU GINJAL PERKEMIHAN )

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA SISTEM PERKEMIHAN
BERHUBUNGAN DENGAN : OBSTRUKSI RENAL KALKULUS
( BATU GINJAL PERKEMIHAN )

A. Pengertian
1. Batu Ginjal adalah batu ginjal yang terbentuk dalam urine yang bersifat asam terdiri dari kalsium oksalat, kristal asam urat, sistin. Sekitar 2/3 dari semua jenis batu ginjal adalah jenis kalsium oksalat, sedangkan batu yang sering terbentuk dalam urine yang basa terdiri dari kalsium fosfat atau magnesium amonium fosfat (batu triple fosfat atau strufit). Kalsium fosfat atau oksalat sering ditemukan pada batu triple fosfat. Batu triple fosfat sering dihubungkan dengan infeksi saluran kemih, terutama disebabkan oleh organisme yang dapat memecah urea.
( Slavia, A. Price, Lorraine M, willson. Hal : 897 )
2. batu ginjal (kalkulus) adalah bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca 2+ dan fosfat Ca 2+ namun asam urat dan kristal lain juga berbentuk batu. Meskipun kalkulus ginjal dapat terbentuk di mana saja dari saluran perkemihan, batu ini palin umum ditemukan di pelvis dan kaliq ginjal, batu ginjal dapat tetap asimtomatik sampai luar kedalam ureter dan aliran urine terhambat, bila potensial kerusakan ginjal adalah akut.
( marlynn E. Doengoes, Hal : 686 )
3. urolitiasis mengacu pada adanya batu ( kalkuli) ditraktus urinarius, batu terbentuk ditraktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosdat dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat difisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine, kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu PH urine dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi).
(Brunner & Suddarth, 2002. hal: 1460)



B. Anatomi dan Fisiologi
 Kedudukan
Ginjal suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang dari kavum abdominalis dibelakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen.
 Bentuk
Bentuknya seperti biji kacang, jumlah ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari wanita.
Fungsi Ginjal terdiri dari :
1. memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
2. mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
3. mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
4. mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
5. mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatin dan amoniak.
 Tes untuk protein (Albumin)
Bila ada kerusakan pada glomerulus atau tubulus maka protein dapat bocor masuk ke dalam urin.
 Mengukur Konsentrasi ureum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureun darah akan naik di atas kadar normal (20-40) mg%.
 Tes Konsentrasi
Dilarang makan atau minum dalam 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi berat jenisnya naik.
 Struktur Ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua, lapisan luar terdapat lapisan korteks (subtansia kortekalis), dan lapisan sebelah dalam medulal (subtansia medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal piramid, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dan lubang-lubang kecil disebut papila renalis. Tiap-tiap piramid dilapisi satu dengan yang lain oleh kolumna renalis, jumlah renalis 15-16 buah.
Garis-garis yang terlihat paua piramid disebut tubulus nefron yang merupakan bagian terkecil dari ginjal yang terdiri dari : Glomerulus, Tubulus Proksimal (tubulus kontorti satu), gelung hendle, tubulus distal (tubuli kontorti dua) dan tubulus urinerius (papila vateri).
Pada setiap ginjal diperkirakan ada 1.000.000 nefron, selama 24 jam dapat menyaring darah 170 liter, arteri renalis membawa darah murni dari aorta ke ginjal lubang-lubang yang terdapat pada piramid renal masing-masin g membentuk simpul dan kapiler satu badan malpigi yang disebut glomerulus, pembuluh aferent yang bercabang membentuk kalpiler menjadi vena renalis yang membawa darah dari ginjal ke vena kava inferior.
 Proses Pembentukan Urin (Air Kemih)
Glomerulus berfungsi sebagai ultra filtrasi, pada simpai bowmen berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus.
Pada tubulus ginal akan terjadi penyerapan kembali dari zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter.
Urin berasal dari darah yang dibawa oleh arteri renalis masuk kedalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah.
Ada 3 tahap pembentukan urin :
1. Proses Filtasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena aferent lebih besar dari permukaan eferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glokusa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll. Diteruskan ketubulus ginjal.
2. Proses Reabsorsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Proses terjadinya secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorsi terjadi pada stibulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah, penyerapannya secara aktif dikenal sebagai reabsorsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papila renalis.
3. Proses Sekresi
Sisanya penyerapan kembali pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke luar .
 Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, arteria ini berpasangan kiri dan kanan, arteria renalis ini bercabang menjadi arteria interloburis kemudian menjadi arteri arkuata, arteria interloburis yang berada ditepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan-gumpalan yang disebut glomerulus.
Glomerulus ini oleh alat yang disebut simpai bowmen, disini terjadi penyaringan pertama dan kapiler darah yang meninggalkan simpai bowmen kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
 Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ginjal.
Anak ginjal (kelenjar suprarenal). Diatas ginjal terdapat kelenjar suprarenalis, kelenjar ini merupakan sebuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2 macam hormon yaitu hormon adrenalin dan hormon kortison. Hormon Adrenalin dihasilakan oleh medula.
(Ester & Yamin, 1997 : 108)
C. Etiologi
1. teori inti (nukleus) : kristal dan benda asing merupakan tempat tempat pengendapan, kristal pada urine yang sudah mengalami supersaturasi.
2. teori matrix : matrix organik yang berasal dari serum atau protein urine memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
3. teori inhibitor kristalisasi : beberapa subtansi dalam urine menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absenia substansi ini memungkinkan terjadinya terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi itu tergantung pada PH urine, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan pembentukan kompleks.
Batu kalsium dapat disebabkan oleh :
a. Hiperkalsiuria absorptif : gangguan metabolisme yang menyebabkan absorpsi pada usus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D dan Hiperparatirod.
b. Hiperkalsiuria Renalis : kebocoran pada ginjal
(Mansjoer. A, 2001 : 334)
D. Patofisiologi
Kandung kemih berkontraksi lebih kuat dari biasanya hingga sampai suatu saat akan melemah, otot kandung kemih semula menebal sehingga terjadi trabekulasi pada fase konpensasi, kemudian timbul sakulasi (penonjolan mukosa didalam otot) dan divertikel (menonjol keluar) pada fase dekompensasi akan timbul residu urine yang memudahkan terjadinya infeksi. Tekanan didalam kandung kemih yang tinggi akan menyebabkan refluks sehingga urine masuk lagi ke ureter bahkan sampai ke ginjal. Infeksi dan refluks dapat menyebabkan pieolonefritis akut atau kronik yang kemudian menyebabkan gagal ginjal.
(Mansjoer. A, 2001 : 334)
Urolitiasis mengecu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius, batu terbentuk ditraktu urienarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosgat, dan asam urat meningkat batu dapat terbentuk ketika terdapat defesiensi substansi tertentu.
(Brunner & Suddarth, 2002. hal: 1460)
E. Manifestasi Klinis
Pasien dengan batu akan merasa pegal dan koliks pada daerah sudut kostofertebralis = (VA). Pada pemeriksaan didapatkan nyeri tekan dan nyeri ketok, bila terjadi hidronefrosis akan teraba adanya masa, dapat terjadi infeksi dan bila terjadi seksis akan timbul demam, menggigil dan apatis. Gejala traktus digestivus seperti nausea, vomitus dan distensi abdomen dapat terjadi karena ileus paralitik, hematuria, dapat terjadi secara mikro (90%) makro (10%).
(Mansjoer. A, 2001 : 334)
F. Komplikasi Potensial
Infeksi dan obstruksi karena batu ginjal meningkatkan resiko infeksi sepsis dan obstruksi traktus urienarius pada gagal ginjal berikutnya.
(Brunner & Suddarth, 2002. hal: 1467)
G. Penatalaksanaan
• Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
• Jenis penatalaksanaan medik :
 Operasi terbuka
 Operasi Endoskopik (PNCL, URS, LITHOTRIPSY, LITHOTRIPSI MEKANIK DLL).
 Ekstra Corporeal shockwave Lithotripsy
• Terapi konserfatif dengan diuretik hanya dilakukan pada batu ureter yang berukuran : < 5 mm dengan Hidronefrosis ringan nyeri koliknya sudah diatasi.
(Mansjoer. A, 2001 : 337)
• Pengurangan nyeri
Tujuan : untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan, morfin atau meperiden diberikan untuk mencegah syok dan synkop akibat nyeri yang luar biasa, mandi air panas atau air hangat diarea panggul sangat bermanfaat. Cairan diberikan kecuali pasine mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan, ini meningkatkan tekanan Hidrostaltik pada ruang dibelakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut kebawah, masukan cairan sepanjang hari mengurangi konsentrasi kristaloid urine, mengencerkan urine dan menjamin haluran urine yang besar.


• Pengangkatan batu
Pemeriksaan sistoskopik dan pasase kateter uretral kecil untuk menghilangkan batu yang mengakibatkan obstruksi (jika mungkin) akan segera mengurangi tekanan belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri. Ketika batu telah ditemukan analisis kimiawi dilakukan untuk menentukan komposisinya, analisis batu dapat membuktikan indikasi yang jelas mengenai penyakit yang mendasari contoh : batu kalsium oksalat atau kalsium fosfat biasanya menunjukkan adanya gangguan metabolisme kalsium atau oksalat, sedangkan batu urat menunjukkan adanya gangguan metabolisme asam urat, batu setrufit (batu infeksi) sekitar 15% dari seluruh batu urinarius agen anti bekterial spesifik diberikan jika infeksi.
• Terapi nutrisi dan Medikasi
• Lithotripsy Gelombang Kejut ekstra porporeal
• Metode Endourologi pengangkatan batu
• Metode pelarutan batu
• Metode pengangkatan bedah
 Nefrolitotomi (Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu)
 Nefrektomi
 Pielolitotomi
 Uretrolitotomi
 Sistostomi
 Sistolitolapaksi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan b.d. IWL, dehidrasi
2. Perubahan eliminasi urine b.d. stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau uretral, obstruksi mekanik, inflamasi.
3. Nyeri b.d. inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius
4. kurang pengetahuan tentang pencegahan batu dan kekambuhan batu renal
5. Resiko tinggi gagal ginjal b.d. intoleransi aktivitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar